Minggu, 24 April 2016

Masjid Menara Kudus, Budaya Islam,Hindu, Budha menjadi satu

Siapa yang tak kenal masjid menara kudus? Masjid yang dibangun oleh Sunan Kudus ini terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah ini tergolong unik. Masjid ini tergolong masjid tua yang masih terawat hingga kini. Salah satu ciri khasnya yang paling menonjol, yaitu adanya bangunan mirip candi tepat di depan masjid. Bangunan mirip candi bercorak agama Hindu itulah yang membuat masjid ini melambung namanya hingga kini. Di samping itu, masih banyak keunikan dari masjid menara kudus yang belum diketahui banyak orang, mulai dari detail keunikan bangunannya sampai banyaknya tradisi masyarakat lokal setempat yang unik.

Seperti diketahui bahwa masjid menara kudus ini terletak di Kabupaten Kudus. Nama daerah “Kudus” ini sebenarnya berasal dari kemasyhuran masjid ini. Menurut sejarah, masjid menara kudus ini dibangun pada tanggal 956 H atau 1549 M. Hal ini dibuktikan dari prasasti pada sebuah batu yang terletak di mihrab masjid yang dituliskan dalam bahasa Arab. Konon, batu tersebut berasal dari Baitul Maqdis di Yerussalem. Ada pula yang mengatakan bahwa batu pertama dalam pembuatan masjid berasal dari Baitul Maqdis. Oleh karena itu, masjid ini juga disebut Masjid al-Aqsha’ atau Masjid al-Manar atau Masjid Kudus. Karena masjid ini terkenal, daerahnya pun disebut Kudus (kudus berarti suci).

Masjid menara kudus merupakan salah satu peninggalan sejarah yang unik dari segi filosofis dan detail bangunannya. Bangunan ini jarang ditemui di tempat lain dan sebagai bukti proses penyebaran Islam di Jawa pada akhir-akhir keruntuhan Majapahit yang beragama hindu. Di tanah Jawa sendiri sebelum Islam datang, penduduknya mayoritas beragama Hindu dan Buddha. Selain itu, ada pula kepercayaan animisme dan dinamisme yang masih kental. Masjid Menara Kudus ini merupakan bukti salah satu perjumpaan kebudayaan Islam dan kebudayaan Hindu yang keduanya merupakan peradaban besar pada zamannya. Perjumpaan itu berupa bangunan yang unik dan berarsitektur seni tinggi. Di satu sisi, menonjolkan sarana ibadah yang sakral, yaitu masjid, dan di sisi lain terdapat candi yang bergaya ornamen Hindu yang digunakan sebagai menara masjid.

Menara Kudus memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang semuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru dengan berlukiskan masjid manusia dengan unta dan pohon kurma. Sementara 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang.

Terdapat pula tempat wudhu yang unik dengan panjang 12 m, lebar 4 m, dan tinggi 3 m. Bahan bangunan dari bata merah berlantai keramik menghiasi bangunan yang berbentuk persegi panjang dengan delapan pancuran, dilengkapi arca yang diletakkan di atasnya. Ini mengadaptasi dari keyakinan Budha, Delapan Jalan Kebenaran atau Asta Sanghika Marga.Di belakang masjid terdapat kompleks makam. Mulai dari makam Sunan Kudus dan Para ahli warisnya, tokoh lain seperti Panembahan Palembang, Pangeran Pedamaran, Panembahan Condro, dan lain-lain.

Selain bisa menikmati kemegahan Masjid Menara Kudus, pada bagian belakang masjid terdapat pemakaman Sunan Kudus sendiri. Selain itu, terdapat pula makam istri, anak, kerabat, dan murid-muridnya. Makam ini selalu ramai dikunjungi, terutama saat hari besar umat Islam. Ramainya makam ini karena kearifan dan kewalian beliau yang masyhur. Konon, beliau digelari waliyul ‘ilmi karena kepandaian beliau dalam pengkajian Islam pada waktu itu. Uniknya, makam Sunan Kudus ini terdapat satir dan pengunjung dilarang memasuki makam secara langsung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar